Tuesday, October 20, 2015

KH. Ahmad Dahlan : Muhammadiyah



Sejak abad ke 12 Islam telah masuk ke Indonesia, disebarkan para pedagang Arab, India, Persia dan China. Dan Islam sebagai agama dan sebagai kebudayaan menghiasi system kepercayaan,  nilai, norma, budaya dan tradisi masyarakat Indonesia. Memperkaya khazanah kepercayaan , pemikiran, kebudayaan dan tradisi kehidupan sehari-hari, yang sebelumnya telah dipengaruhi agama dan kebudayaan local Indonesia dan  Hindu Budha. Adalah KH Ahmad Dahlan yang melihat sisi lain dari Islam dalam tata kehidupan masyarakat Islam Jawa yang sangat penting kita pelajari dimasa sekarang.

Kekayaan khazanah budaya, agama, tradisi local nusantara, Hindu Budha dan islam kemudian diperkaya oleh agresi budaya colonial Belanda yang bercorak kristiani dan imperialistic dan kapitalistik, yang dipaksakan pemerintah colonial Belanda.  Budaya barat yang dimasukkan oleh pemrintah colonial Belanda dan kalangan Zending dan Missionaris Kristiani memberi warna baru dalam cara berfikir dan bertingkah dikalangan masyarakat Indonesia. Dan tentu system nilai dan norma yang berbeda  kerap menimbulkan konflik nilai dan budaya dikalangan ummat Islam.<a href=http://www.sejarahcikampek2.blogspot.com>pindah</a>.


Namun, dalam konteks masyarakat Islam Indonesia, kerap masyarakat Indonesia dibagi kedalam golongan abangan dan golongan santri. Golongan abangan merujuk kepada mereka yang Islami secara agama, tetapi kurang rajin dalam menjalankan syariat Islam, tetapi, golongan santri merujuk kepada masyarakat Islam Indonesia yang rajin melaksanakan syariat Islam, terutama yang termasuk kedalam rukun Iman.

Bila golongan santri terdoktrin oleh ajaran Islam dengan ketat, tidak demikian dengan golongan abangan.  Mereka tergolong mudah menerima system nilai dan norma yang tidak berdasarkan syariat Islam.  Banyak diantara mereka yang mencampur ajaran Islam dengan ajaran agama dan kepercayaan nenek moyang.  Sehingga muncul berbagai kehidupan budaya takhayul dalam masyarakat Islam.
Berkembangnya budaya dan pemikiran yang tidak sesuai dengan prinsip – prinsip Islam dikalangan masyarakat Islam Jawa , apalagi yang sesuai dengan pola pemikiran dan kehidupan Nabi Muhammad dan pesan serta makna Alqur’an, mendorong  KH Ahmad Dahlan pada tanggal 8 Dzulhijah 1330 H, yakni bertepatan tanggal 18 November 1912 M di kota Yogyakarta mendirikan organisasi Islam Muhammadiyah. Melalui Muhammadiyah diharapkan ummat Islam  dapat  mencontoh dan meneladani jejak perjuangan nabi Muhammad SAW dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi agama , kejayaan Islam sebagai idealita dan kemulian hidup umat Islam sebagai realita yang menjadi rahmatan lil alamin.

Tradisi para santri Indonesia pada masa itu, bahkan hingga kini, setelah merasa cukup belajar dari para ulama terkenal di berbagai lembaga pendidikan pesantren, dilanjutkan dengan belajar di Mekkah atau Madinah atau Kairo untuk lebih memperdalam wawasan keislaman mereka dengan berguru kepada para Syech terkenal.  Hal ini dilakukan  Ahmad Dahlan, ia pergi ke Mekah pada tahun 1890 dan belajar dengan seorang guru Syekh Ahmad Khathib dari Minang Kabau, salah seorang ulama yang kharismatik dan Imam besar di Masjid al-Harom.<a href=http://www.sejarahcikampek2.blogspot.com>pindah</a>.

Organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan untuk menyebarkan luaskan Islam, meluruskan pemahaman dan praktek Islam yang menyimpang dari ajaran Islam dinamakan Muhammadiyah , yang  berarti umatnya Muhammad atau pengikut Nabi Muhammad Saw.
Gerakan Islam Muhammadiyah yang bersiafat dakwah Amar Makruf Nahi Munkar, berasas Islam dan bersumber Al Qur'an dan Sunah. Aksi gerakannya dalam bentuk mendirikan sekolah-sekolah yang kurikulumnya memadukan berbagai ajaran Islam dengan kurikulum sekolah-sekolah Belanda dan menggunakan system kelas.  Disamping mendirikan sekolah, akademi dan Universitas, Muhammadiyah mendirikan rumah sakit, yayasan yatim piatu dan panti Jompo serta usaha-usaha yang bersifat bisnis.

Gerakan dan ajaran ideologi Muhammadiyah yang dibawa KH Ahmad yang semula berkembang di kampung Kauman akhirnya menyebar ke luar daerah dan luar Pulau Jawa. Para pimpinan cabang Muhammadiyah dengan semua kekuatan yang mereka miliki, mereka berusaha  memberi warna pemikiran Islam yang lebih modern kepada ummat Islam Indonesia.

Gerakannya yang berbasis pendidikan, pendirian rumah sakit, panti jompo, yayasan-yayasan yatim piatu, sulit dibendung oleh pemerintah colonial Belanda. bahkan ketika mengeluarkan ordonansi sekolah liar, hanya  membuat Belanda salah tingkah, salah logika. Muhammadiyah menanggapinya dengan sikap kooperatif. Muhammadiyah mengajukan badan hokum dan protes terhadap aturan yang tidak adil tersebut, terhadap pemerintah colonial Belanda, menjadi makin tersudut , dan pergerakan Muhammadiyah justru makin berkembang pesat. Bahkan, cita-cita memperadabkan bangsa Indonesia versi colonial Belanda menjadi sulit diwujudkan, karena Muhammadiyah mendesain Indonesia modern berbasis Islam. Dan pergerakan Muhammadiyah ini terus berlanjut, melalui KH. Ahmad Dahlan- Ahmad Dahlan baru, hingga kini , untuk menjawab dan memberi bentuk Indonesia yang lebih modern tetapi berlandaskan pemikiran islam modern.



No comments:

Post a Comment